Jumat, 05 Desember 2014

Rumah Kita ?

Mendengar kata "Rumah Kita" beberapa dari kita mungkin langsung merujuk ke sebuah lagu yang sangat populer bahkan hingga masa kini "Rumah Kita" yang pertama dibawakan oleh God Bless.

Oh, I hate this song, TBH. Why ?

Nah, jadi begini ceritanya. Setelah saya bergabung dengan paduan suara dikantor, saya diwajibkan untuk menghafalkan lagu berjudul "Rumah Kita" untuk dibawakan ketika acara ulang tahun kantor bulan desember.

You know what, setelah hidup berpuluh puluh tahun didunia ini, baru kemarin saya mendengarkan lagu tersebut dengan memperhatikan liriknya secara seksama karena mau tidak mau saya harus menghafalkanya agar penampilan kita terdengar merdu (tidak ada hubungannya sih).  Satu kata setelah medengerkan lagu ini yaitu Prihatin, ya PRIHATIN Lah, kenapa ?

Pesan lagu ini hanya berisi tentang pesimisme, ketidak berdayaan, sangat mudah menyerah, tidak mau berusaha.

Hanya bilik bambu tempat tinggal kita
Tanpa hiasan, tanpa lukisan
Beratap jerami, beralaskan tanah
Namun semua ini punya kita
Memang semua ini milik kita, sendiri

Bait pertama mengajarkan kita agar bersyukur dengan apa yang kita miliki, rumah yang hanya dari bilik bambu, tanpa hiasan, tanpa lukisan, tapi intinya itu semua milik kita. mungkin ilustrinya seperti gambar dibawah ini:


Seriously??. Nah sekarang lihat gambar dibawah. 
.

Kenapa kita harus senang dan puas jika kita bisa meraih yang lebih. Meskipun kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki, alangkah baiknya kita juga tetap berusaha meraih sesuatu yang lebih baik lagi. Memang sih rumahnya milik kita sendiri, tanpa hiasan, tanpa lukisan, yang penting milik kita. nah sekarang bayangkan jika anda memiliki rumah seperti gambar diatas. bersyukur juga kan jika kita punya yang satu ini? malah mungkin lebih bersyukur. lebih bagus, lebih bersih ada hiasan, ada lukisannya juga. Keluarga kita, anak-anak kita juga pasti akan lebih senang.

 Hanya alang alang pagar rumah kita
Tanya anyelir, tanpa melati


Udah rumahnya dari bilik bambu, tanpa hiasan, tanpa lukisan, eh ditambah alang-alang. Alang-alang kok dibiarin memenuhi halaman? emang ga bisa dibersihin? kan lebih bagus, lebih bersih kalo alang-alangnya dibersihkan, lingkungan juga lebih sehat.

Usaha dong!!! dibersihin, ganti bunga melati !!!

Haruskah kita beranjak ke kota
Yang penuh dengan tanya

Lebih baik disini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah yang kuasa
Semuanya ada disini
Rumah kita

Nah, ini nih yang parah. Eh, Hidup itu perjuangan. kalo ga mau susah ya jangan hidup. Udah males bersihin alang-alangnya, eh ini malah ga mau berjuang. Haruskah kita beranjak ke kota, Yang penuh tanda tanya. Mau hidup lebih enak ga? ya harus berani ambil resiko dong. Pergi ke kota sono, cari kerja. Takut penuh tanda tanya? Yaelah, belum juga pergi kekota, udah pesimis dulu. Ibarat Perang, perangnya belum mulai udah ketembak dulu.

Lebih baik disini, rumah kita sendiri, Segala nikmat dan anugerah yang kuasa, Semuanya ada disini. Kalo kita mau berusaha , Insyaallah pasti ada jalan. Dikota juga banyak anugerah dari yang kuasa. asal mau bekerja, berusaha pasti dikasih tuh anugerah. Tuhan itu pasti memberikan rejeki kesetiap umatnya. Tinggal tergantung diri kita sendiri, seberapa keras usaha kita. Kalo mau berusaha keras, Insya allah akan dikasih yang lebih, nah kalo tetep ga mau berusaha ya selamanya akan berbunyi "Hanya bilik bambu tempat tinggal kita,Tanpa hiasan, tanpa lukisan,Beratap jerami, beralaskan tanah, Hanya alang alang pagar rumah kita, Tanya anyelir, tanpa melati"

"RUMAH KITA, KITA??? LOE AJA KELES"

































Tidak ada komentar:

Posting Komentar